RSS

nasrudin_udin17@yahoo.co.id

Aku MencintaiMu Karena ALLAH

    Hari ini Khalid sedang bingung, bukan bingung menunggu pengumuman SMUN, karena beberapa hari yang lalu Khalid mendapat konfirmasi dari SMUN dan lolos, begitupun Dhisya. Dari IPB hanya mereka berdua yang lolos. Khalid senang, Ia berharap akan menjadi lebih bermanfaat nanti. Namun yang lebih membuatnya bahagia adalah karena Dhisya juga lolos, maka selama dua bulan ke depan mereka akan hidup bersama dalam satu atap, asrama SMUN, Khalid di lantai dua, sedangkan Dhisya di lantai tiga. Peserta SMUN akan mengikuti pelatihan pendidikan selama dua bulan untuk pembekalan menjadi Guru Model SMUN Dompet Dhuafa. Dua bulan ini pula yang akan dijadikan Khalid untuk mengenal Dhisya lebih dekat. 

        Rasa untuk Dhisya bak bola salju, semakin lama, menjadi semakin besar. kian membuncah. Dhisya juga merasakan hal yang sama, namun sebagai perempuan yang baik, Dhisya tidak akan sembarangan meluapkannya. Dhisya mampu menyimpan rapi sekali perasaannya di hadapan Khalid. Jika menelepon dan sms, tidak ada yang aneh, wajar-wajar saja. Ia berhasil membuat Khalid sama sekali tidak mengetahui rasa itu. Rasa yang juga kian membuncah di dadanya. 


     Namun ada yang mengusik hati Khalid, Dyah akhir-akhir ini lumayan sering menghubunginya, menanyakan apakah Khalid masih memiliki rasa untuk anaknya, Rina Hapsari. Dyah benar-benar ingin mendapatkan menantu yang baik seperti Khalid. Apalagi Dyah menangkap masih ada rasa yang besar untuk Khalid di mata anaknya, Rina. Tiga tahun bersama jelas bukan waktu yang sebentar. Banyak kenangan yang sudah membekas di hati Rina. Diam-diam Rina juga merasa menyesal pernah bertindak bodoh, menyakiti Khalid yang dulu benar-benar menyintainya. Kini Ia tahu bahwa mencari lelaki yang sabar seperti Khalid memang tidak mudah. 

       Rina juga tidak tahu kalau Dyah, sang ibu sering menghubungi Khalid belakangan ini. Dyah menelpon Khalid selalu ketika malam hari, saat Rina sudah terlelap. Dan Setiap kali Dyah menelpon, Khalid hanya menjawab dengan kalimat diplomatis, tidak menerima dan juga menolak, kalau jodoh insya Allah Khalid akan menjadi menantu tante, tapi kalau tidak jodoh, mau diapain juga tidak akan bisa tante. Hanya itu.
      Khalid bimbang, harus memilih satu diantaranya, Dhisya atau Rina. Memandang keduanya memang menenangakan, sama-sama menutup auratnya dengan sangat baik. Rina anak sulung yang manja, ngalem sekali ia kalau sama Khalid, benar-benar menggemaskan. Sedangkan Dhisya adalah bungsu yang dewasa, mandiri, dan cerdas. Hey Khalid, tegaslah, mau yang dewasa atau yang masih anak-anak? 

      Di hati Khalid memang masih ada rasa yang tersisa untuk Rina, namun bayangan kelam masa lalu benar-benar tak bisa dilupakan dengan mudah. Semua pengorbanannya dahulu disia-siakan Rina. Ia trauma. Sedangkan rasa untuk Dhisya juga kian tumbuh, namun Ia belum tahu pasti apakah Dhisya juga memiliki rasa yang sama. Bagaimana jika ternyata Dhisya tidak memiliki rasa apapun ke Khalid? 

       Andai Khalid tahu bahwa Dhisya juga mencintainya, mungkin tidak akan menjadi serumit ini. Disinilah lemahnya manusia, Ia tidak memiliki ilmu apa-apa. Jika jemari kita dicelupkan ke dalam lautan, kemudian diangkat, maka air yang membasahi jemari kita, itulah ilmu manusia. Sedangkan air yang ada di lautan adalah ilmu Allah. Jelas tidak ada apa-apanya, namun manusia sering lupa dan sombong, bangga dengan ilmunya dan melupakan sang pencipta. Ah kasihan sekali manusia

       Sudah jam 9 pagi, dengan kebimbangan di hatinya, Khalid tetap membantu Tuminah membuat kue siput untuk cemilan lebaran, Yudi masih terlelap setelah kembali merangkul mimpi ba’da Shubuh tadi, sedangkan Salim sedang ke Pasar. Tiga hari lagi lebaran tiba.
”Kapan kamu akan kembali ke Bogor Lid?” tanya Tuminah sambil membuat adonan kue.
“Mungkin seminggu setelah lebaran Mak” jawab Khalid, “Kemarin aku udah minta temen yang ada di Bogor untuk membelikan tiket dan yang murah itu seminggu setelah lebaran. Harga tiketnya 475ribu, Mak”

        “Terus nanti tiketnya kamu ambil dimana?”
“Dikirim lewat email. Kayak surat gitu, tapi pake internet. Jadi nanti pas di kota Bengkulu aku ambil di warnet terus di print” Khalid menjelaskan. Tuminah memang hanya lulusan SD, banyak istilah yang Ia tidak mengerti. 

       “Ooohh.. Ya udah gak apa-apa. Ambil aja, mumpung murah. Tahun lalu kamu kan dapet tiketnya mahal tuh, sampe 800ribuan”
“Iya mak” Khalid mengiyakan, “Mbak endang sama Mas Nur kapan ke rumah mak? Aku udah kangen sama Fajar, Salwa, Tia, dan Arum”

      “Kemarin pas nelpon, katanya ke rumahnya pas malam takbiran. Mbak Endang harus menjaga warungnya. Lumayankan, semakin dekat lebaran, biasanya semakin ramai yang ke warung membeli bahan pokok untuk persediaan lebaran”
Khalid mengangguk dan kembali asik memilin adonan yang sudah disediakan oleh Tuminah. Kue siput adalah kue kacang goreng yang dibalut oleh adonan tepung hingga membentuk seperti siput yang memanjang. 

        “Mak, kemarin tante Dyah nelpon Khalid dan bilang kalau Rina masih suka sama Khalid. Khalid disuruh ke rumahnya” Khalid menceritakan semuanya ke Tuminah, “Tante Dyah ingin Khalid melamar Rina mak”
“Wes, ora usah to lhe, opo kuwe lali mbiyen Rina wes nyakitin awakmu lhe? Rina juga kan manja banget Lid. Cari yang lain aja”

        “Iya mak, Aku juga sebenarnya masih bingung. Aku sih sebenarnya juga masih sayang lo mak sama Rina, tapi kalau inget dulu dia gak pernah serius sama Aku, jadi takut juga kalau Rina ngulangin lagi tingkahnya dulu” Khalid menjelaskan, “Apalagi sekarang aku juga lagi suka sama orang mak, makanya bingung”
          “Suka sama siapa? Anak mana Lid? Siapa namanya?” Tuminah menjadi antusias.
“Namanya Dhisya Hanna Annahla, mak. Panggilannya Dhisya. Aku kenal pas wawancara SMUN di Dompet Dhuafa kemarin mak. Anak IPB juga, tinggal di Depok”
“Wong jowo?”
“Bukan mak, Sunda campur Betawi mak. Tapi anaknya baik dan sholehah. Jilbabnya itu lo mak, lebar banget, Aku suka. Kemana-mana pakai kaos kaki dan manset. Dia benar-benar menjaga auratnya dengan baik”

“Tapi bukannya orang Betawi itu keras-keras ya Lid? Kenapa gak nyari yang orang jawa aja. Orang jawa itu nerimo dan manut sama suami Lid”
“Dhisya kan punya pemahaman yang baik mak, walau bukan orang jawa pasti juga mau manut sama suami. Suami itu kan imam dan kunci syurga bagi istri to?”

      “Ya udah kalau kamu yakin dia baik dan sholehah kamu ngomong aja ke dia” Tuminah duduk di hadapan Khalid dan membantu memilin adonan yang lumayan banyak di hadapan Khalid.
“Masalahnya aku gak tau mak, dia suka sama aku atau gak. Lagian orang kayak dia mana mau sembarangan ngomong suka. Orang kayak dia itu biasanya gak mau pacaran, kalau memang suka ya menikah langsung”
        “Mosok gitu lhe, lah terus belum kenal gitu emang bisa langgeng pernikahannya? Mbok yo pacaran dulu beberapa bulan biar saling mengenal”
“Dalam Islam itukan memang gak ada pacaran mak. Banyak mudhorotnya. Ciuman lah, peluk-pelukan lah. Tuh di berita juga kan banyak orang yang hamil di luar nikah karena pacaran mak” Khalid mencoba menjelaskan kepada Tuminah.
         Tuminah mengangguk mengerti, “Ya udah, kalau kamu maunya langsung menikah juga bagus”
“Iya mak, tapi kan aku masih bingung, milih Rina atau Dhisya? Kalau milih Rina, udah jelas insya Allah diterima, tapi Rina memang manja dan dulu kan pernah nyakitin aku. Ntar pas udah nikah kalau ngulangi lagi kayak dulu kan repot” Khalid menjelaskan, “Kalau milih Dhisya, aku gak tau dia suka juga sama aku atau gak. Kalau ternyata dia gak suka sama aku gimana?”

“Lah kamu sudah minta petunjuk sama Allah belum Lid? Sudah shalat istikharah?”
Ataghfirullah hal ‘adzim, mengapa aku melupakan Mu ya Allah. Aku lupa bahwa urusan ini Engkaulah yang lebih mengetahui mana yang baik dan buruk, Khalid membatin.
“Belum mak, Lupa”

“Kalau gitu, kamu minta petunjuk dulu sama Allah. Shalat malam dan istikharah. Apapun hasilnya nanti, mamak dukung. Kalaupun Rina, ya tidak apa-apa, siapa tau dia sudah berubah dan menjadi lebih baik bersama kamu”
“Iya mak, nanti aku shalat malam dan istikharah dulu”

                                                                                *****

         Di pertigaan malam Khalid harus bangkit dan mengakhiri mimpinya. Ia lihat Yudi masih terlelap sekali di sampingnya. Bagaimana tidak, Ia baru tidur jam 1 dinihari, biasa, main winning eleven di PS duanya. Setelah merasa nyawanya kembali penuh, Khalid keluar kamar perlahan, Ia tidak ingin menimbulkan keributan dan membangunkan yang lain. Namun Khalid salah, Tuminah dan Salim ternyata sudah bangun dan sedang shalat di mushalla rumah mereka. 

       Khalid masuk ke kamar mandi, bersih-bersih sejenak dan berwudhu. Setelah mengganti pakaian dengan yang lebih layak untuk menghadap Allah, Khalid memilih shalat di kamar tamu rumahnya yang sedang kosong. Khalid ingin hanya berdua saja dengan Allah.
Khalid memulai ritual malamnya dengan melakukan shalat taubat. Ia merasa sangat bersalah karena sudah sejauh ini belum melibatkan Allah sedikitpun dalam proses yang sedang Ia jalani. Ia terlena dengan nikmatnya getaran rasa di hatinya. Ia lupa bahwa getaran dan rasa itu adalah anugerah dari tuhannya.
Ya Allahu Rabbuna, hamba telah melupakan Mu dalam proses yang sedang hamba jalani ini. Hamba lupa dan lalai. Mata Khalid basah. Ya Allahu Rabbuna, ampuni hamba jika selama proses dan interaksi hamba dengan Dhisya selama ini ada hal-hal yang tidak engkau ridhoi.
Setelah selesai melakukan shalat taubat, Khalid melanjutkan dengan melakukan shalat hajat dan istikharah. Begitu banyak keinginan yang disampaikan Khalid malam ini ke Allah dan Allah menyukainya. Allah menyukai hamba yang banyak meminta kepada Nya. 

       Ya Allahu Rabbuna, engkaulah yang membolak balikkan hati hamba. Engkau mengetahui setiap bisikan dan rasa yang ada di hati hamba. Engkau juga pasti mengetahui bahwa hamba masih memiliki rasa yang besar ke Rina, namun masa lalu yang kelam menjadi trauma tersendiri bagi hamba ya Rabb.
      Ya Allahu Rabbuna, sungguh tidak ada daya dan upaya melainkan hanya milik Mu ya Rabb. Sungguh hanya engkaulah yang mengetahui rahasia langit dan bumi, engkaulah yang mengetahui mana yang baik dan buruk untuk hamba ya Allah, maka berilah petunjuk kepada hamba agar hamba tidak salah menentukan siapa yang akan hamba pilih. Amin

        Selesai memanjatkan doa kepada Allah, Khalid membuka al Quran mungilnya dan melanjutkan tilawah. Beberapa halaman saja. Perlahan ia membacanya. Damai sekali.
Setelah itu, Khalid melipat sajadahnya dan menuju ke dapur. Ada suara berisik disana, ternyata Tuminah sedang memanaskan beberapa sisa makanan tadi malam sambil menanak nasi di rice cooker. Sebentar lagi semua menu siap tersedia.
“Yudi mana Lid?” tanya Tuminah yang menyadari kedatangan Khalid.
“Masih tidur mak. Tadi kayaknya dia begadang lagi”
“Selalu aja tuh adikmu main PS sampai lupa waktu. Diingetin ya Lid, kasian kalau begadang setiap hari. Apalagi sejak kecelakaan beberapa tahun yang lalu, adikmu itu jadi mudah sakit-sakitan”
“Insya Allah mak”

“Oia, kamu mau dibuatin apa minumnya? Teh atau susu?”
“Teh manis aja deh mak. Aku kan gak suka susu”

         Setelah semuanya tersaji di meja makan, barulah Khalid membangunkan Yudi. Sahur kali ini tidak begitu spesial, hanya ada nasi hangat, telur dadar, tumis kangkung, dan sambal tomat. Apapun menunya, Khalid selalu menikmati setiap masakan Tuminah. Nikmat sekali.
Pagi ini Khalid merasakan kedamaian yang dalam sekali, walau tadi ia sudah bangun ketika masih banyak manusia yang tidur, namun ia sama sekali tidak mengantuk. Justru ketenangan dan semangatlah yang terpancar di wajah Khalid. ia lega karena sudah menumpahkan semua masalahnya kepada Allah. Ia sudah memasrahkan semuanya kepada sang pencipta. 

        Dhuha menjelang, Tuminah dan Salim sudah bersiap-siap melakukan shalat dhuha 8 rekaatnya. Ini adalah kebiasaan yang berhasil ditanamkan Suyanto kepada Tuminah. Begitu kuat tertanam, hingga ketika kini Suyanto sudah 3 tahun meninggal, Tuminah masih istiqomah menjalannya. Khalid menyaksikan Tuminah dan Salim yang sedang melaksanakan Dhuha, Salim menjadi imam dan Tuminah mengikuti dari belakang. Persis seperti dahulu ketika Suyanto masih hidup. Khalid tergerak untuk melaksanakan Dhuha juga, Ia kemudian bangkit dari duduknya dan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih dan berwudhu.
Khalid kembali bersimpuh di hadapan Allah, menjalan 4 rekaat dhuhanya sambil kembali bermunajat kepada Allah. Ya Allah, sungguh tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanya milikmu, gumam Khalid dalam doanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar