RSS

nasrudin_udin17@yahoo.co.id

Kekasih, Tunggu Aku Di Pintu Surga

    Pukul 11.30 malam. Langit malam begitu hitam. Bulan dan bintang bersembunyi di balik kelambu awan. Keheningan terasa begitu mencekam jiwa. Di luar rumah tua dan kosong tempat mereka bersembunyi hanya terdengar suara jangkrik dan sesekali suara katak yang ribut menanti hujan. Rumah itu sendiri terletak di ujung sebuah jalan kecil, di dalam gang yang tak terlalu lebar. Rumah terdekat berjarak sekitar 50 meter dari rumah itu. Rumah kosong itu dihiasi sesemakan rimbun dan sebatang pohon mangga besar dan rindang yang menambah kesan seram. Beberapa papan di dinding sebelah kanan dan kiri tampak rapuh. Namun bagian depan rumah masih utuh, dengan pintu dan jendela yang tampak kokoh.

     “Gimana keadaan di luar, Danar?” Rana berbisik. Ia mengenakan kaus biru, sweater hitam dan celana jeans warna biru muda. Di depannya hanya ada sebatang lilin yang menyala redup, sesekali siur angin meliukkan nyala lilin. Ada dua nasi bungkus di dekat mereka, teronggok begitu saja sebab tampaknya tak ada yang merasa lapar. Ruangan tempat mereka duduk dulunya adalah kamar yang cukup luas, terletak agak di belakang rumah. Lantai ruangan sudah dibersihkan sekadarnya dengan kain bekas yang ada di lemari usang di kamar samping.


     “Ga ada orang, Mbak.” Lelaki muda yang mengintip dari jendela menyahut pelan. Wajah remajanya tampak kuyu. Keletihan yang begitu dalam membayang di bola matanya.
“Danar.” Panggil Rana pelan. Remaja itu menoleh. “Duduklah di sini.” Ia menurut.
“Ya, Mbak?”
“Kau mencintaiku?”

      “Mbak! Kenapa masih tanya seperti itu? Jelas aku mencintaimu!” Danar mendadak gusar.
“Tenanglah, Sayang, jangan marah. Aku hanya ingin memastikan. Aku menyesal sekali telah membuat keadaanmu jadi seperti sekarang ini. Semestinya saat ini kamu menyiapkan diri untuk mulai kuliah, jalan bareng teman-teman kamu, menikmati dunia remaja. Tapi–”

      Sebuah ciuman menghentikan ungkapan penyesalan Rana. Hangat. Rana yang semula terkesiap, akhirnya luluh dan membalas dengan lembut. Ah…lelaki ini, kekasihku. Usianya memang masih belia, tapi ia tahu caranya menyenangkan dan menenangkan hati Rana. Ia yang berusia 12 tahun lebih tua pun terkadang gentar menghadapi kenyataan yang sedang mereka alami sekarang. Cinta di antara mereka berdua memang kuat. Meski begitu apa yang bisa diharapkannya saat memutuskan pacaran dengan ‘anak ingusan’? Ia ingat pandangan seperti apa yang diberikan orang-orang ketika mengetahui mereka berdua punya hubungan khusus. Tatapan mencemooh, merendahkan, bahkan jijik. Rana adalah perempuan yang berusia jauh di atas Danar. Seorang janda pula.
      Bukan sekali dua kali orang tua Danar mendatangi rumah Rana, menyuruh Rana menjauhi Danar, kadang dengan kata-kata bernada ancaman. Tapi setiap ia sampaikan hal itu kepada Danar, Danar selalu menguatkan dirinya, meminta ia bersabar. Sampai suatu malam seseorang tak dikenal melempari rumah Rana dengan batu yang diselipi selembar kertas berisi ancaman. Tindakan itu membuat jiwa Rana guncang. Ia meminta Danar menjauhinya, tapi justru Danar yang mengusulkan agar mereka kabur. Dalam kekalutan, Rana menyetujui usul Danar. Dan hal itulah yang membawa mereka sampai di sini saat ini. Bersembunyi seperti tikus ketakutan.

       “Aku tidak menyesali apapun, Mbak. Aku memilih kabur bersamamu sebab aku tahu Papa dan Mama tak akan pernah merestui hubungan kita. Mereka menganggap tak mungkin tumbuh cinta di antara anak remaja dan wanita matang seperti kamu. Tapi mereka salah, Mbak. Sangat salah.”
Suara Danar memutus lamunan Rana. Dipandanginya wajah tampan yang mengguratkan kelelahan. Ditatapnya mata sayu yang menyimpan bara cinta sedemikian kuatnya. Tangan Rana terangkat, jemari lentiknya membelai wajah Danar. Sejenak Danar menikmati sentuhan sederhana tapi penuh makna itu, lalu meraup jemari Rana, menciumnya hangat, dan menangkupkannya ke dada.

       “Besok, ketika keadaan sudah aman, kita akan kabur dari kota ini. Kita akan memulai hidup kita sendiri, Mbak. Mencari pekerjaan lalu kita akan menikah!” Mata Danar berbinar demikian bahagia. Rana menatap mata kekasihnya dengan pandangan haru. Ah, kamu masih begitu muda, Sayang. Semangat kamu masih tinggi. Sementara kamu belum mengerti sekeras apa dunia di luar sana, gumam batin Rana.
“Yang jelas, aku tidak mau berpisah denganmu, Mbak. Aku ingin memilikimu selamanya. Menjadi suamimu.”
“Ya, dan saat itu kamu harus mengubah panggilanmu kepadaku. Aku tak mau terus dipanggil ‘Mbak’!” Gurau Rana.

       Danar tertawa pelan. Lelucon kecil itu sanggup mengendurkan sejenak urat saraf mereka yang tegang sejak pelarian mereka kemarin sore. Keluarga Danar pasti sudah menyadari kepergian anak kesayangan mereka. Mungkin saat ini mereka sudah minta bantuan polisi. Ah, entahlah. Rana tak ingin memikirkannya terlalu jauh.

       Mendadak suara sirene memecah keheningan malam. Rana dan Danar terkesiap. Sigap merapatkan badan ke dinding kamar. Jantung mereka berdegup kencang. Berdoa semoga mereka tak terlihat oleh siapapun yang ada di luar rumah sekarang. Dengan gerakan perlahan, Danar mengintip ke luar melalui kain usang yang menutupi jendela tanpa kaca. Wajah tegangnya segera mengendur.

       “Ada kebakaran rupanya, kulihat ada asap tebal di sebelah barat sana. Tadi mobil pemadam kebakaran yang lewat di depan gang.” Danar menghembuskan napas lega. Tubuh Rana merosot ke lantai diikuti Danar. Perasaannya kini semakin cemas. Setiap ada suara di luar rumah, hatinya langsung berdegup kencang.
Sejenak tak ada yang berbicara. Masing-masing memilih untuk menikmati sunyi yang hadir lagi. Rana melamun, membayangkan seperti apa kelak hidupnya jika sudah menikah dengan Danar. Ah, lamunan yang terlalu jauh. Hati Rana menepis bayangan indah di benak. Yang terpenting, besok pagi kami harus sudah pergi jauh dari kota ini. Mungkin ke Jakarta. Ya! Kenapa tidak? Di sana ada banyak pekerjaan. Dia bisa melamar di restoran, jadi pelayan toko, syukur-syukur dengan ijazah D3 ia bisa melamar jadi karyawan. Senyum di bibir Rana mengembang. Danar hanya menunduk di sampingnya sejak tadi.

      “Sst, mbak..ada yang datang.” Suara Danar mendadak tegang. Dari balik kain usang tampak berkas-berkas lampu senter yang menyorot ke seluruh penjuru rumah. Tiga orang tampak mendatangi rumah itu dari kejauhan. Hati Rana ciut. Semua khayalan manis menguap begitu saja. Kini dia duduk tak bergerak di samping Danar. Hatinya cemas, bibirnya gemetar berdoa.
“Ayo! Kita mesti pindah dari sini, Mbak. Mereka orang suruhan Papa. Aku mengenali salah satu dari mereka.”
Tanpa suara, Danar beringsut pelan. Tubuhnya bergeser di sepanjang dinding kamar, mendekati pintu. Mereka harus bergerak hati-hati sebab saat keluar dari kamar, tubuh mereka akan gampang terlihat dari luar. Pintu dan jendela depan rumah memang tertutup rapat, tapi tak ada kain yang menutupi jendela-jendela itu.

         Rana mengikuti apa yang dilakukan Danar. Saat mereka mencapai pintu kamar, Rana merebahkan diri dan merayap pelan menuju pintu belakang rumah. Sudah tak dipedulikan lagi pakaian mereka yang kotor menyapu lantai. Dada mereka berdegup demikian kencang. Setelah mencapai pintu belakang, Danar menutup rapat daun pintu, bergegas mengendap menjauhi rumah.
“Ada orang di dalam?” Sebuah suara berat milik seorang lelaki memecah sunyi. Senter ia sorotkan ke dalam melalui jendela tanpa kaca. Hanya ada kesunyian yang menjawab pertanyaannya.
Lelaki yang menyorotkan senter memberi isyarat pada dua temannya yang juga memegang senter. Salah satunya mengangkat ponsel dan mulai menelepon.
“Ada rumah kosong di dalam gang kecil ini, Pak. Kelihatannya tidak ada siapa-siapa. Tapi akan kami periksa lebih lanjut ke dalam.” Lapornya. Sesaat ia hanya diam mendengarkan, mengangguk, lalu mematikan ponsel.

       “Lihat ke dalam, Min! Dul, bantuin!” Kata lelaki itu kepada dua  temannya yang memegang senter. “Oke, Jat!” jawab Min.
Dua lelaki yang dipanggil Min dan Dul mengitari rumah itu dari dua arah yang berbeda. Dul yang bergerak ke arah samping kanan rumah mengintip ke dalam dan berseru keras.
“Lihat, Jat! Ada lilin! Pasti mereka ada di sini. Ayo, kita dobrak saja!”
Serempak Min, Dul, dan Jat berusaha masuk ke dalam rumah. Min dan Jat mencoba membuka paksa pintu depan. Tapi sial bagi mereka, pintu itu tergembok. Membuka paksa hanya akan menimbulkan keributan memancing perhatian warga sekitar. Dul yang melihat jendela kamar samping bolong tanpa kaca, mencoba membuka selot. Berhasil!
“Kemari!” Serunya.

Ketiga lelaki itu masuk bergantian ke dalam kamar. Mata mereka liar menyapu seisi ruangan. Memandangi sebatang lilin yang kini tinggal separuh. Ada dua nasi bungkus yang belum dimakan dan dua plastik air minum diletakkan di sudut kamar. Min menyentuhkan jarinya ke salah satu nasi bungkus.
“Masih hangat,” serunya. Mereka kian semangat mencari ke seluruh penjuru rumah. Nihil! Danar dan Rana tak mereka temukan.
Jat menelepon lagi. “Barusan mereka di sini, Pak. Pasti belum jauh. Kami akan kejar mereka melalui jalan di belakang rumah ini.”
“Ayo!” serunya pada Min dan Dul. Bertiga mereka mengejar Danar dan Rana.
                                                                   *********

Danar dan Rana terus berlari. Langkah kaki mereka tiba di sebuah perkebunan sawit. Cucuran keringat meleleh membasahi seluruh tubuh. Kelelahan lahir dan batin begitu mendera. Sekali Rana terjatuh sebab kakinya tersangkut akar pohon. Kaki kanan Rana terkilir dan memar. Ia tak mampu lagi berlari. Danar segera menggendong Rana dan tersaruk-saruk mereka melanjutkan pelarian.
“Mbak, lihat! Ada gudang di depan. Itu pasti milik perkebunan ini. Kita lihat, barangkali kita bisa sembunyi di sana.”

Rana menyibakkan rambutnya yang menutupi wajah. Matanya berusaha fokus ke arah yang ditunjuk Rana. Tapi penerangan yang minim membuat Rana menyerah. Ia memasrahkan semua pada Danar.
Gudang itu pengap dan tanpa penjagaan. Danar dan Rana berhasil memasukinya setelah mencungkil selot pintu belakang gudang menggunakan gancu yang mereka temukan tersandar di dinding belakang. Mungkin ini adalah gudang penyimpanan hasil kebun. Namun saat mereka berhasil masuk, ternyata gudang itu kosong. Danar menyelot pintu gudang dengan gancu, sekedar penghalang agar orang luar tak melihat pintu gudang terbuka.

“Masih sakit kakinya, Mbak?” tanya Danar sambil menurunkan Rana perlahan di sudut sebelah kiri dari pintu gudang.
Rana menggeleng dan berusaha tersenyum. Sesungguhnya pergelangan kakinya teramat sakit. Ia hanya tak ingin menambah beban Danar. Semakin ia pikirkan semua ini, semakin ia merasa bersalah. Danar masih sangat muda, masa depannya terbentang luas. Dengan dukungan finansial dari keluarganya, sangat mungkin hidup Danar akan sukses di masa depan. Tapi apa yang dilakukannya sekarang? Membuang diri bersamaku? Rutuk hati Rana.

Danar berjalan mengitari gudang yang tak terlalu luas itu. Matanya mencari-cari ke seluruh penjuru. Di sebuah sudut ia berhenti. Entah apa yang sebenarnya ia cari. Sementara Rana terus berperang dengan batinnya sendiri.
Rana, kau jangan egois! Kecam sebelah hati Rana. Danar masih muda, jiwanya masih labil. Harusnya kau menasehati dia, bukannya malah setuju diajak kabur. Sebelah hati yang lain menyahut. Memang dia masih muda, tapi pendiriannya demikian mantap. Dia lebih dewasa ketimbang usianya.
Sebelah hati Rana mencibir. Lalu, apa akibatnya sekarang, Rana? Kalian kabur. Jadi pelarian. Masa depan Danar bagaimana? Bisa kerja apa dia dengan ijazah SMA? Ah! Ijazah SMA pun dia tak punya ‘kan sekarang? Sadari itu Rana!

Pergulatan hati Rana kian keras. Akhirnya Rana menyerah. Ia telah tiba pada sebuah keputusan. Keputusan yang seharusnya sudah ia ambil sejak kemarin.
“Danar, kemarilah!”

Danar menoleh, dan bergegas mendekat lalu berlutut di sebelah Rana. Wajah Danar tampak khawatir. Di tangannya ada selembar kain untuk membebat kaki Rana. Sesuatu berkilat di antara lipatan kain itu, tapi Rana tak begitu memperhatikan. Danar meletakkan kain itu di lantai lalu mengelus perlahan kaki Rana. “Kakinya sakit lagi, Mbak?”
“Tidak, bukan tentang kakiku. Aku ingin bicara serius padamu.”
Wajah Danar semakin tampak khawatir. Dia mulai menyadari, yang akan dikatakan Rana benar-benar penting.
“Aku ingin kita hentikan saja pelarian kita ini. Kembalilah pada keluargamu dan……..tinggalkan aku.” Sungguh pedih hati Rana mengucapkan kalimat ini pada orang yang sangat ia sayangi. Tapi ia tahu, ini yang terbaik.

“TIDAK! Aku tidak mau, Mbak! Aku sayang kamu, Mbak. Aku rela jadi seperti ini karena cinta sama Mbak. Aku ingin terus bersama Mbak Rana.” Danar demikian emosi. Matanya berkilat merah. Napasnya memburu.
“Dengarkan aku, Sayang. Hidup tak selalu berjalan seperti yang kita bayangkan. Hidup tak selalu indah.” Rana terisak. “Jika terus bersama aku, hidupmu akan hancur, Sayang.”
Danar menangis. Air mata bercucuran membasahi pipinya. Suaranya kini serak.
“Aku tidak mau, Mbak Rana. Aku tidak mauu.”

Rana merangkul tubuh Danar yang terguncang. Mereka bertangisan melepaskan beban yang terasa amat  menyesak di dada. Berharap tetesan-tetesan bening itu dapat menyapu bersih penat di jiwa. Berbagi kekuatan lewat pelukan kekasih yang amat disayangi. Pada saat seperti itu, tampaklah seperti apa sebenarnya seorang Danar. Ia hanya remaja yang akhirnya goyah setelah diterpa masalah demikian berat. Semua sikap dewasa yang dia perlihatkan selama pelarian ini telah hilang tak berbekas. Dia tak tahan lagi.
Danar mengangkat kepalanya dari dekapan tangan Rana. Cepat ia hapus air mata yang masih menggenang di matanya. Mata itu, kini terlihat kembali keras.

“Kalau aku tak bisa hidup bersamamu, aku mau mati saja!”
Rana tersentak. “Danar! Jangan bicara seperti itu! Sadar, Sayang, hidupmu masih panjang. Mungkin kita bisa ketemu lagi lain waktu.”

“Tidak, Mbak. Tak ada lain waktu. Mbak tahu apa yang dikatakan Papa padaku kemarin sebelum aku memutuskan kabur? Dia bilang akan menguliahkan aku di Inggris. Ada saudara Papa yang bersedia menerimaku di sana. Entah berapa tahun aku akan di sana, Mbak. Aku tidak akan sanggup!”
Rana menangis. Ya, dia juga tak akan sanggup berpisah begitu lama.
“Dan Mbak tahu apa yang Papa katakan mengenai Mbak? Dia akan mengadukan Mbak ke polisi dengan tuduhan melarikan anak di bawah umur. Percobaan penculikan. Atau apapun asal Mbak bisa masuk penjara. Aku kenal Papa, Mbak. Dia orangnya keras. Dia tak akan mau merestui kita.”
Suara Danar kian meninggi. Mendadak tangannya bergerak ke arah kain yang tadi ia letakkan di samping kakinya, meraba sebuah benda, lalu mengacungkan tangannya. Sebuah silet ada di jepitan jemarinya. Rana menatap ngeri.

”Benda ini yang akan membuktikan cintaku kepadamu, Mbak. Aku akan mencintaimu sampai mati! Sampai mati!”
Tanpa dapat dicegah, Danar menyayatkan silet itu ke nadi tangan kirinya. Sontak darah segar menyembur. Rana histeris.

“Danar! Apa yang kamu lakukan, Sayang? Kenapa nekat begini?” Rana menghambur memeluk tubuh Danar. Tak dipedulikannya darah yang membasahi seluruh tubuhnya. Mata Rana melirik ke arah kain yang tadi dibawa Danar. Bergegas ia bebatkan ke pergelangan tangan Danar. Segera saja kain kumal itu memerah, basah dengan darah.
Mata Danar meredup tapi bibirnya tersenyum. Tubuh mudanya kehilangan banyak sekali darah. Kondisinya semakin lemah. Susah payah bibir Danar bergerak hendak mengucapkan sesuatu. Rana mendekatkan telinganya.
“Rana….aku mencintaimu. Selamanya.” Akhirnya kalimat terakhir keluar dari bibir Danar.
Perlahan kepala Danar terkulai. Matanya memejam dan napasnya tinggal satu-satu. Lalu hilang. Separuh jiwa Rana terasa terbang.

“DANAAAAAAAAARRRR!!!!”

Sementara di luar gudang, Min, Dul, dan Jat tersentak mendengar teriakan histeris Rana. Tanpa perlu dikomando, serempak mereka menuju asal suara, sebuah gudang di depan mereka. Tapi pintu gudang tak bisa dibuka. Ada sesuatu yang mengganjal dari dalam.
“Dobrak, Min!” perintah Dul.
Rana seperti tak peduli dengan keributan yang ditimbulkan tiga lelaki itu. Batinnya kini kosong. Semangatnya terbang bersama nyawa kekasihnya. Tubuh Danar yang masih hangat tetap ia peluk erat. Bibirnya tak mampu lagi menangis.

“Dobrak lagi, Min. Hampir kebuka!”

Kali ini suara Dul seperti menyadarkan Rana. Ia harus lakukan sesuatu. Mereka tidak boleh menangkapku! Perlahan ia rebahkan tubuh kekasihnya ke lantai gudang yang dingin. Rana menatap tanpa ekspresi pada silet berdarah yang tergeletak di samping tubuh Danar. Perlahan ia raih benda itu, memperhatikannya sebentar, lalu tanpa ragu ia sayatkan besi tipis dan tajam itu ke nadinya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Rana tak lagi peduli. Dia hanya ingin segera menyusul Danar. Pelan tapi pasti, nyeri menguasai diri Rana.
Perlahan penglihatan Rana memudar. Air mata membayang di pelupuk. Ia tahu, ini adalah air mata bahagia. Sebentar lagi ia dan Danar bisa kembali bersama. Rana tersenyum samar. Ia membaringkan dirinya tepat di samping jasad Danar yang semakin dingin. Dibelainya rambut dan wajah Danar. Dipeluknya jasad Danar sambil mengecup mesra bibir yang membiru.
“Kekasihku, tunggu aku di pintu surga.”
Tubuh Rana terkulai. Nyawanya terbang sudah, menyusul Danar ke alam abadi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar